Senin, 16 Januari 2012

Museum Sang Nila Utama Pekanbaru


MUSEUM DAERAH RIAU
“SANG NILA UTAMA”

Museum Sang Nila Utama yang terletak di Jl.Jenderal Sudirman Pekanbaru ini berdampingan dengan Taman Budaya Provinsi Riau dan Kompleks Perkantoran Jenderal Sudirman. Museum ini menempati bangunan khas Riau yang tidak mencolok, bangunan yang bergaya arsitektur rumah tradisional melayu yang tampak biasa saja jika dibandingkan dengan bangunan perkantoran lainnya yang berdiri dengan megahnya.
Museum ini merupakan tempat terbaik untuk mengenal kekayaan Riau secara singkat. Banyak benda budaya maupun benda yang menjadi sumber daya alam yang patut dilestarikan di Riau terdapat di dalam museum tersebut. Hal tersebut merupakan penyebab pemerintah daerah Riau menganggarkan pengumpulan benda-benda tersebut secara bertahap sejak tahun anggaran 1977/1978. Pembangunan gedung museum sendiri baru dimulai pada tahun anggaran 1984/1985 dan persemiannya dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 1994 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prof.Edi Sedyawati. Lalu museum ini diberi nama Museum Sang Nila Utama. Pemberian nama Sang Nila Utama ini berasal dari nama seorang Raja Bintan yang berkuasa sekitar abad XIII Masehi di Pulau Bintan.
Salah satu yang menjadi dasar berdirinya museum daerah Riau ini adalah banyaknya benda-benda bercorak budaya maupun benda yang menjadi sumber daya alam yang patut untuk dilestarikan. Apalagi Riau dahulunya merupakan pusat kebudayaan dan pernah berada di puncak kejayaan sebagai kerajaan besar di Indonesia.
Ruang pameran museum daerah Riau ini memiliki luas 1.123 m2 dengan bentuk arsitektur tradisional Riau dan memiliki dua lantai untuk memamerkan benda-benda bersejarah yang ada di museum ini. Selain ruang pameran tetap yang menjadi pusat kunjungan masyarakat, Museum Daerah Riau juga memiliki fasilitas lain sebagai penunjang fungsi museum. Fasillitas tersebut antara lain, taman yang dilengkapi sarana bermain, gedung auditorium yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum, perpustakaan dan lain-lain. Museum Daerah Sang Nila Utama ini mempunyai tugas pokok yaitu melaksanakan urusan, pekerjaan dan kegiatan pengelolaan museum dan kepurbakalaan. Dan memiliki fungsi sebagai berikut:
1.      Melakukan pengumpulan, perawatan, pengawetan dan penyajian benda-benda yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah
2.      Melakukan urusan keperpustakaan dan dokumentasi ilmiah
3.      Memperkenalkan dan menyebar luaskan hasil penelitian koleksi yang mempunyai nilai bidan dan ilmiah
4.      Melakukan bimbingan edukatif kultural dan penyajian rekreatifitas benda-benda yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah
5.      Melakukan urusan tata usaha
Ketika memasuki ruangan museum, mata langsung disuguhi oleh benda-benda peninggalan dari masa lampau. Ada benda yang masih asli yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun dan ada pula benda-benda tiruannya saja atau yang lebih sering disebut replika. Museum Sang Nila ini sudah memiliki jumlah koleksi sampai tahun 2010 sebanyak 3.886 koleksi dan sekarang sudah lebih dari 4.000 koleksi yang terdapat di dalam museum tersebut. Koleksi ini terdiri dari berbagai jenis yang keseluruhannya dapat diklasifikasikan menjadi 10 jenis, yaitu:
1.      Geologika/Geografika (koleksi yang berhubungan dengan geologi dan geografi)
2.      Biologika ( koleksi yang berhubungan dengan biologi)
3.      Etnografika (koleksi yang berhubungan dengan suku bangsa)
4.      Arkeologi ( koleksi yang berhubungan dengan kepurbakalaan)
5.      Historika (koleksi yang berhubungan dengan sejarah)
6.      Numismatika dan Heraldika (koleksi yang berhubungan mata uang, stempel dan tanda jasa)
7.      Filologika (koleksi yang berhubungan dengan naskah kuno)
8.      Keramologika (koleksi yang berhubungan dengan gerabah dan keramik)
9.      Senirupa (koleksi yang berhubungan dengan seni lukis, seni kerajinan, dan seni patung)
10.  Teknologika/Modern (koleksi yang berhubungan dengan teknologi dan rekayasa)
Saat memasuki pintu utama museum, terdapat berbagai koleksii yang terdiri dari beberapa benda bersejarah dari masa lampau. Seperti kapak batu, kapak berimbas, dan alat batu serpih dari zaman paleotikum, mesolitikum dan neolitikum. Di ruangan depan tersebut juga terdapat beberapa prasasti-prasasti peninggalan kerajaan di masa lampau di Riau seperti prasati batu kapur, prasasti batu bata dari candi muara takus. Juga terdapat miniatur dari bangunan mesjid penyengat dari daerah Rengat yang konon saat membangun mesjid tersebut alat perekat bangunan tersebut adalah putih telur. Ada juga miniatur candi muara takus yang terdapat di Kampar, dimana disana terdapat 4 buah candi yang berdiri, yaitu: candi mahligat, candi palangka, candi bungsu dan candi tua yang merupakan peninggalan dari kerajaan sriwijaya. Dan terdapat banyak lagi miniatur bangunan lain di Riau.
Dilanjutkan kesebelah kiri pojok ruangan pameran museum terdapat stan pertambangan minyak bumi sumbangan PT.Chevron Pasifik Indonesia yang dulunya bernama Caltex. Pengeksplorasi minyak di Riau ini memberikan sumbangan berupa pompa angguk untuk membuat sumur minyak dan banyak sekali alat peraga serta maket. Alat peraga yang ada antara lain bentuk minyak dari mulai minyak mentah sampai jadi, mata bor, jenis-jenis batuan, serta gambar dan foto lapisan bumi sampai tanker raksasa yang sedang sandar di Dumai. Dari maket kita juga bisa tahu lapisan bumi yang di bor serta urutan produksi dari mulai di bor sampai siap pakai. dari pelabuhan Dumai minyak bumi tersebut di ekspor ke beberapa negara di dunia seperti singapura dan lainnya. Sekitar 60% dari hasil minyak bumi dihasilkan dari Riau. Betapa kaya negeri Riau ini.
Kemudian masih dilantai atas dari pintu masuk depan kita bisa menemukan berbagai peninggalan kerajaan melayu Riau, yaitu kerajaan Siak. Banyak artefak dan prasasti yang ditampilkan. Demikian pula dengan kelengkapan kebesaran kerajaan seperti perhiasan, baju, senjata, dan yang lainnya. Terdapat pula mata uang dari masa sebelum kemerdekaan sampai sesudah kemerdekaan, alat batu manusia purba, keramik dan gerabah yang kebanyakan berasal dari cina sekitar abad 10-19 M, payung kerajaan siak, mahkota dan sebagainya. Diantara benda-benda tersebut terpajang sepeda tua bersejarah bercat hitam milik Soeman H.S.
Masih di lantai dua ruangan pameran Museum Sang Nila Utama, terpasang di dinding foto-foto orang yang berjasa kepada Riau. Ada foto Tuanku Tambusai, Imam Bonjol, Idrus Tintin, Soeman HS, dan lain-lain. Selain itu juga terdapat foto Gubernur Riau yang pertama kali menjabat sebagai gubernur di Riau hingga saat ini
Kita langkahkan kaki turun ke lantai bawah dari museum tersebut, disana dapat ditemui patung harimau yang sebenarnya bukannya tiruan melainkan harimau asli yang sudah diawetkan. Semua bagian dari harimau itu masih asli kecuali lidah dan mata. Tetapi disayangkan pada harimau tersebut ada sesuatu yang hilang, yaitu kumis dan taringnya yang ternyata dicuri orang yang konon katanya ada kepercayaan masyarakat yang mengatakan kumis dan taring harimau tersebut bisa membuat seseorang berwibawa.
Selain itu ada juga alat tenun tradisional khas Riau serta koleksi-koleksi batik yang sering digunakan masyarakat melayu riau di zaman dahulu. Berbagai pakaian pengantin juga dipamerkan dari setiap daerah di Riau, misalnya pakaian pengantin dari kampar, rokan hulu, siak sri indrapura, dan lain-lain. Dilanjutkan melihat-lihat benda-benda bersejarah di daerah Riau di lantai bawah, masih banyak terdapat benda peninggalan bersejarah di masa lampau seperti alat musik tradisional, alat permainan tradisional, alat komunikasi, alat peralatan dapur, alat penangkap ikan, alat penangkap burung, alat bertani, mesin jahit dan masih banyak lagi. Terdapat juga beberapa Al-Quran yang ditulis tangan, salah satunya dari Kampar. Serta pelaminan dan tempat tidur khas melayu Riau.
Di pojok bawah terdapat replika rumah pandai besi, sejak masa lampau manusia telah mengenal pemanfaatan dan pengaturan suuhu api yang kemudian menciptakan suatu teknologi pengerjaan dan pengelolaan benda-benda yang terbuat dari bahan baku logam. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis teknologi pengerjaan dan pengelolaan benda logam sudah dikenal sejak beberapa abad sebelum masehi, yaitu dengan ditemukannya benda yang terbuat dari perunggu, besi dan emas. Secara umum teknik pembuatan benda-benda logam dibagi atas teknik cetak dan teknik tempa.
Disamping rumah pandai besi, ada sebuah suku asli riau yaitu suku sakai. Suku sakai ini sebagian besar berada di daerah minas kabupaten siak, mandau dan bukit batu. Umumnya suku sakai hidup dalam kelompok-kelompok kecil pada suatu perkampungan yang mereka dirikan dekat dengan  sumber-sumber air, seperti di sungai, rawa dan sumber mata air di hutan. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka bercocok tanam di ladang dengan menanam ubi kayu yang disebut dengan ubi manggalo. Selain itu juga mereka menangkap ikan dan berburu binatang, mengambil madu lebah serta mencari hasil hutan lainnya.
Pada zaman dahulu sawah merupakan sebidang tanah yang telah digarap untuk dapat dikembangkan menjadi lahan budidaya tanaman padi. Di indonesia kepandaian mengolah lahan budidaya tanaman padi sudah dikenal sejak masa lampau yang merupakan perkembangan dari pengetahuan bercocok tanam dengan pola berladang pada masa neolitikum atau sekitar 2000 s.d 1000 SM. Pada masa itu manusia telah memanfaatkan hutan belukar dengan cara menebang dan membakar pohon dan belukar. Kemudian dikembangkan menjadi ladang untuk ditanami tumbuhan yang dapat memenuhi kebutuhan bahan pangan. Tumbuhan yang mula-mula ditanam antara lain jenis umbi-umbian seperti keladi, ubi jalar, jewawut, padi dan kacang. Pengolahan lahan yang ditampilkan di Museum Sang Nila ini adalah mengolahan model sawah di daerah Kampar yang dikerjakan dengan menggunakan peralatan yang masih sederhana dan tradisional.
Dilanjutkan setelah mengulas suku sakai dan cara bercocok tanam masyarakat zaman dahulu, terdapat pula miniatur-minatur rumah adat melayu riau. Ada rumah limas yang terbuat dari bahan kayu dan seng yang merupakan rumah melayu yang berbentuk dapur bubung panjang yang disebut gajah menyusu, rumah belah bubung, rumah masyarakat petalangan dan sebagainya. Selain miniatur rumah adat, miniatur kapal lancang kuning juga dipajang serta miniatur sampan-sampan.
Tak ketinggalan di dalam museum tersebut diceritakan tentang perjuangan masyarakat riau di zaman dahulu yanng tertempel berderet di dinding museum tersebut. Ada banyak cerita dan dan peninggalan sejarah yang diwariskan dari masa lalu masyarakat riau. Banyak benda-beda langka yang sudah tidak bisa dijumpai lagi disaat masa sekarang ini. Secara umum, kunjungan yang sangat mengesankan ini dapat memberi pelajaran yang sangat berharga tentang kekayaan budaya indonesia khususnya riau. Mulai dari kekayaan bumi, sejarah, adat istiadat, dan sebagainya yang harus selalu dilestarikan oleh generasi selanjutnya karena Museum Daerah Sang Nila Utama ini merupakan bukti otentik dari catatan dan penelitian sejarah di daerah yang kita cintai ini, yaitu Riau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar